Kejati Sumut Dukung Program Ketahanan Pangan
Medan (tajukpos.com)- Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) mendukung program pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Dukungan tersebut disampaikan Kajati Idianto melalui Koordinator Yos A Tarigan dan dipandu Kasi Penkum Adre Wanda Ginting dengan narasumber Kabid Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Sumut, M. Juwaini dalam acara Jaksa Daring yang digelar live di akun media sosial IG Kejati Sumut, Jumat (14/2/2025).
Di awal acara Adre menyapa sobat Adhyaksa yang selalu mengikuti program Jaksa Daring Kejati Sumut. Adre menyampaikan bahwa Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto salah satu yang menjadi prioritas adalah mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Sementara Yos dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa Kejaksaan RI, dalam hal ini Kejati Sumut mendukung penuh program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
"Kejaksaan dalam hal ini berperan untuk melakukan pengawalan dan pendampingan terhadap program pembangunan sektor pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan," kata Yos.
Selanjutnya, M. Juwaini menyampaikan bahwa tanaman jenis padi ada 755 ribu hektar dan Sumut menjadi nomor 7 besar penyumbang beras nasional dengan produksi mencapai 1,7 juta ton per tahun.
"Untuk kebutuhan beras, kita masih surplus. Belakangan ini ada kenaikan harga beras, tapi Sumut tidak sampai mengalami beras langka," paparnya.
Dalam paparannya, M. Juwaini mengungkapkan bahwa di Sumut setiap tahunnya terjadi pengurangan luas lahan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman, atau peruntukan lainnya.
"Untuk melindungi lahan pertanian agar fungsi utamanya tetap dipertahankan, perlu ada Pergub atau Perbup yang mempertegas pentingnya melindungi lahan-lahan sawah produktif. Menyikapi pengurangan lahan sawah produktif ini, Pemprov Sumut juga melakukan terobosan dengan mencetak sawah baru," paparnya.
Untuk cetak sawah baru, lanjutnya di 2024 Kementerian Pertanian telah mencetak sawah baru di 14 Kabupaten/Kota, antara lain di Labuhanbatu Utara (Labura) serta Kabupaten lainnya. Cetak sawah baru tersebut antara lain memanfaatkan lahan rawa yang sama sekali tidak dimanfaatkan, akhirnya dikelola dengan maksimal menjadi lahan pertanian produktif.
"Cetak sawah baru di Sumut mencapai 50 ribu hektar yang tersebar di 14 kabupaten/kota," tandasnya.
Selanjutnya, Yos menjelaskan bahwa ke depan, tugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) sudah semakin berat, terutama dalam mengedukasi generasi Z atau generasi millenial untuk menekuni sektor pertanian.
Menurut Yos, petani di daerah Karo berbeda kebutuhannya dengan petani di daerah Sergai yang dikenal sebagai sentra tanaman padi. Semua daerah memiliki ciri khasnya masing-masing.
Petani di Karo lebih dominan menanam tanaman jenis hortikultura, sementara di Sergai jenis tanamannya didominasi tanaman padi. Keberadaan PPL di lapangan sangat mendukung tercapainya swasembada pangan, antara lain dengan mengedukasi petani memanfaatkan teknologi yang ada.
(tp/r)